SANGATTA – Penguatan UMKM tidak berhenti pada modal. Kompetensi, legalitas, sertifikasi, tata kelola dan jaringan menjadi bagian penting agar pelaku usaha mampu berkembang. Ketua Umum IKaT Nusantara sekaligus anggota DPR RI, Irjen Pol (Purn) Drs Frederik Kalalembang, mendorong LSP UMKM Mahkota Mahakam mengambil peran dalam proses tersebut.
Frederik mengapresiasi Eko Sugiarto atas kerja dan dedikasinya mengembangkan Lembaga Sertifikasi Profesi Usaha Mikro Kecil Menengah (LSP UMKM) Mahkota Mahakam di Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Eko merupakan anggota IKaT Nusantara yang berdomisili di Kutim. Ia menjabat ketua Dewan Pengarah LSP UMKM Mahkota Mahakam dan tercatat sebagai komisaris utama PT LSP UMKM Mahkota Mahakam dalam dokumen badan hukum. Perusahaan tersebut berkedudukan di Sangatta Selatan, Kutim. Lembaga ini diarahkan untuk berkontribusi terhadap peningkatan kompetensi pelaku UMKM melalui pembinaan, pendampingan dan sertifikasi kompetensi sesuai ketentuan yang berlaku.
Bagi Frederik, membangun lembaga sertifikasi membutuhkan proses panjang. Komitmen, ketekunan dan kemampuan membangun koordinasi dengan pemerintah maupun pemangku kepentingan lain menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
“Saya menyampaikan selamat dan apresiasi kepada Dr Eko Sugiarto, Apa yang dicapai merupakan hasil kerja keras, ketekunan dan dedikasi. Saya berharap keberhasilan ini bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi dapat memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat, khususnya para pelaku UMKM,” kata Frederik kepada dwipantara.id, pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Ia menekankan sertifikasi tidak berhenti pada penerbitan dokumen. Sertifikasi harus memastikan kompetensi pelaku usaha dapat diuji dan diakui berdasarkan standar yang berlaku. Namun, persoalan UMKM tidak berhenti pada kompetensi. Banyak pelaku usaha memiliki produk dan kemauan untuk berkembang, tetapi menghadapi kendala dalam manajemen, pemasaran, legalitas, akses pembiayaan, informasi dan jaringan.
Menurut Frederik, kondisi tersebut membutuhkan pendampingan yang lebih dekat. “Jangan sampai masyarakat mempunyai produk yang bagus dan kemauan bekerja, tetapi tidak berkembang hanya karena tidak mengetahui ke mana harus bertanya dan bagaimana mengurusnya. Di sinilah pendampingan menjadi penting,” ujarnya.
Karena itu, Frederik mengajak masyarakat Sangtorayaan di berbagai daerah untuk memanfaatkan pengalaman dan pengetahuan Eko, terutama mereka yang telah menjalankan usaha maupun yang sedang menyiapkan UMKM. Ia juga mendorong pelaku usaha membangun komunikasi dengan pemerintah kabupaten dan kota, pemerintah provinsi, serta perangkat daerah yang menangani koperasi, UMKM dan sektor terkait.
Menurutnya, banyak program pemerintah dapat dimanfaatkan pelaku usaha apabila mereka memahami mekanisme dan persyaratannya. Pelaku UMKM juga perlu mempersiapkan usahanya secara profesional agar mampu mengikuti berbagai program tersebut.
“Kita jangan hanya menunggu bantuan pemerintah. Kita harus aktif mencari informasi, belajar, bertanya dan mempersiapkan usaha kita. Kalau persyaratan dipenuhi, kompetensi ditingkatkan dan komunikasi dengan pemerintah setempat dibangun dengan baik, saya yakin akan semakin banyak peluang yang dapat dimanfaatkan oleh UMKM kita,” katanya.
Dalam konteks itu, Frederik berharap LSP UMKM Mahkota Mahakam dapat menjadi salah satu penghubung antara pelaku usaha dengan kebutuhan peningkatan kompetensi, sertifikasi, pembinaan dan peluang pengembangan usaha. Ia mengaitkan upaya tersebut dengan peran IKaT Nusantara sebagai wadah persaudaraan masyarakat Toraja atau Sangtorayaan yang tersebar di berbagai wilayah.
Bagi Frederik, jaringan tersebut dapat menjadi kekuatan apabila diisi dengan pertukaran pengetahuan, pengalaman dan akses.
“Toraja adalah rumah besar kita. Sangtorayaan tersebar di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri. Kalau ada saudara kita yang mempunyai ilmu, pengalaman, jaringan dan kompetensi, maka itu harus menjadi kekuatan bersama. Kita saling membantu supaya semakin banyak saudara kita yang maju,” tutur Frederik.
Ia berharap organisasi tidak berhenti sebagai ruang berkumpul. IKaT Nusantara, menurut dia, harus mampu menghadirkan manfaat melalui penguatan jaringan, pertukaran informasi, pembukaan peluang dan pendampingan.
Dalam kerangka itu pula, kompetensi Eko Sugiarto diharapkan dapat dimanfaatkan lebih luas oleh Sangtorayaan, tidak hanya di Kutai Timur, tetapi juga oleh pelaku UMKM di daerah lain.
“Kalau ada UMKM yang ingin berkembang, mari kita arahkan. Kalau ada yang belum memahami legalitas, sertifikasi atau bagaimana membangun kemitraan dengan pemerintah daerah, mari kita bantu dan dampingi,” kata Frederik. Target akhir, lanjut Frederik, bukan hanya membuat UMKM tetap berjalan, tetapi mendorongnya tumbuh menjadi usaha yang lebih profesional, memiliki pasar lebih luas dan mampu membuka lapangan pekerjaan.