SPPG Kutim Jaga Mutu Makan Bergizi Gratis Lewat Evaluasi Berkala

Bupati Ardiansyah Sulaiman saat meninjau salah satu dapur yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) di Jalan Poros Kabo, Gang Mawar, Desa Swarga Bara, Sangatta Utara, pada September 2026 lalu. Foto: Dok. Diskominfo Kutim
by
5 Februari 2026

SANGATTA – Upaya peningkatan layanan pemenuhan gizi sekolah terus dilakukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Aji Pangeran Tumenggung Pranoto Kutai Timur. Evaluasi berkala menjadi bagian penting, terutama untuk memastikan variasi menu siap santap diterima dengan baik oleh anak sekolah, ibu hamil, menyusui dan balita.

Dalam pelaksanaannya, pengelola SPPG mencatat masih adanya masukan dari penerima manfaat, terutama terkait rasa dan tekstur makanan. Kepala SPPG APT Pranoto Kutai Timur, Dinand Ananda Perdana, menyebutkan respons tersebut masih dalam batas wajar dan menjadi bagian dari proses penyempurnaan layanan.

“Pelayanan ini tentu belum sempurna. Ada anak yang tidak suka telur, ada juga yang lebih memilih ayam dibanding ikan. Semua masukan itu kami catat dan jadikan bahan evaluasi,” ujar alumnus Ilmu Hukum Universitas Brawijaya, itu.

Ia menuturkan setiap keluhan akan dibahas bersama manajemen, tim produksi, serta tenaga ahli gizi. Jika keluhan serupa muncul berulang kali, evaluasi menyeluruh akan dilakukan, termasuk kemungkinan penyesuaian menu. Namun, perubahan tidak bisa serta-merta dilakukan tanpa pertimbangan menyeluruh.

“Kami harus memastikan keluhan tersebut mewakili mayoritas anak. Tidak mungkin ribuan porsi diubah hanya karena sebagian kecil tidak menyukai menu tertentu,” kata dia.

Dinand menjelaskan SPPG APT Pranoto memproduksi sekira 2.750 porsi makanan per hari yang didistribusikan ke enam sekolah dan satu posyandu. Proses memasak dimulai sejak pukul 01.00 hingga 02.00 Wita dan ditargetkan selesai pada pukul 07.00-08.00 Wita. Makanan yang telah matang terlebih dahulu didinginkan sebelum dikemas untuk menjaga mutu serta mencegah risiko pembusukan. Operasional dapur didukung oleh 45 personel yang terdiri dari relawan dan staf inti, termasuk ahli gizi, akuntan, serta kepala SPPG. Untuk menunjang kinerja, pengelola juga menyediakan fasilitas mess bagi para pekerja.

Dari sisi pasokan bahan pangan, SPPG bekerja sama dengan Koperasi Pemuda Kutim Hebat yang membina kelompok tani lokal. Kerja sama ini, menurut Dinand, dapat memberdayakan petani setempat sekaligus menjamin ketersediaan bahan baku. “Jika pasokan dari petani belum mencukupi, kami melengkapi kebutuhan dari toko-toko besar,” kata Dinan.

Terkait penggunaan penyedap rasa, SPPG mengikuti ketentuan Badan Gizi Nasional dengan tidak menggunakan penyedap tertentu. Sebagai alternatif, digunakan kaldu jamur dalam jumlah terbatas agar cita rasa tetap terjaga tanpa berlebihan.

Dinand berharap program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini dapat berjalan berkelanjutan dan memberi dampak nyata bagi tumbuh kembang anak. “Harapannya, anak-anak tumbuh sehat, terhindar dari stunting, dan menjadi generasi unggul di masa depan. Itu kebanggaan bagi kami,” ujarnya. (*/WLN)

Admin

Berkarie di media online sejak jaman kompeni, jurnalis uzur ini menyukai outdoor activity, seperti main layangan dan meriam bumbung.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.